Profil Guru


Danang Ari Wibowo, SE. Lahir di Brebes, pada tahun 1982. Pria yang akrab dipanggil Danang dan Gubes (Guru Besar) oleh para kolega dan muridnya ini sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dan mengetahui hal ghaib. Waktu berusia beliau 14 tahun belajar Tenaga Dalam Satria Nusantara.  Dan memanfaatkan hasil latihan tenaga dalam tersebut untuk membantu kesembuhan alm. Ibunya yang waktu itu menderita penyakit ginjal. 

Setiap kali ibunya kesakitan, ia akan menyembuhkan ibunya dengan kemampuan tenaga dalam yang dia miliki. Sampai suatu saat karena kesibukannya di sekolah, beliau tidak sempat melatih tenaga dalam yang dimiliki dan tidak bisa menggunakan kemampuan tenaga dalamnya karena tidak pernah dilatih, hingga akhirnya Allah SWT memutuskan untuk mengambil ibunya lebih cepat.

Sejak saat itu beliau bertekad untuk belajar tenaga dalam lebih giat agar bisa membantu atau menolong orang yang membutuhkan. kemudian pada tahun 2001, beliau belajar Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih, dan Wahyu Sejati disela kesibukannya saat berkuliah di UPN Yogyakarta. Momen tersebut ia gunakan untuk mengembangkan ilmu tenaga dalam dan pengetahuannya tentang  olah nafas. Kemudian pada tahun 2003, beliau belajar ilmu guru sejati, hizbul jin dan ilmu kejawen Islam yang lainnya kepada seorang Guru yang juga seorang petani dari daerah Batang Pekalongan, untuk mengasah kemampuan trawangannya dan pengetahuannya tentang hal  ghaib.

Pada tahun 2005, beliau mendalami ilmu agama di Pondok pesantren daerah Yogyakarta. beliau juga belajar dan mendalami tarekat Syadziliyah, ilmu fiqih dan tasawuf. Di ponpes tersebut, ia juga belajar berbagai ilmu hikmah yang sampai sekarang menjadi bekal keilmuannya. Tak cukup sampai disitu, tahun 2006 beliau bertemu seorang guru di Yogyakarta yang mengajarinya berbagai macam ilmu dari A sampai Z, dari ilmu hitam sampai ilmu putih. Dengan semua keilmuan yang beliau miliki membuat kepercayaan dirinya untuk mengajarkan keilmuan yang beliau miliki mulai tumbuh, dan kepercayaan diri yang ia peroleh dari orang-orang yang pernah ditolong, membuatnya membuka perguruan di kota Yogyakarta dengan nama “Sukma Mataram”. Sampai akhirnya membuat Padepokan “Segoro Ilmu” di Jakarta hingga saat ini, dengan tujuan “Menyatukan Persaudaraan dan Bersama Meraih Kesuksesan”. Sampai saat ini, anggota atau murid Padepokan Segoro Ilmu telah berjumlah ratusan dan tersebar di pelbagai daerah di Indonesia maupun luar Indonesia.